Jumat, 30 Maret 2012

Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pesisir Desa Rumahtiga


Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pesisir Desa Rumahtiga

Disusun oleh :
CYECILIA PICAL (2009 – 63 – 028)

Prodi : MSP

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2010



Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pesisir Desa Rumahtiga

                                Setiap daerah atau setiap tempat yang ada di dunia tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik atau ciri pembeda inilah yang membuat setiap daerah memiliki keunikan masing-masing. Kadang orang sebenarnya tidak memperhatikan keunikan dari suatu daerah secara baik. Padahal, jika kita mampu mengelolah atau memanage keunikan suatu daerah dengan baik, ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh.
                        Sebut saja daerah pesisir yang  terkadang tidak begitu di pandang oleh masyarakat luas. Hal ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Betapa terdapat begitu banyak peluang pemanfaatan yang seharusnya dapat dilakukan, tetapi setiap kita hingga saat ini masih kurang jeli dalam melihat seberapa besar peranan daerah pesisir dalam kehidupan kita. Menurut Saya, kita harus mengakui bahwa wilayah pesisir kaya akan karakter kehidupan. Setiap wilayah pesisir memiliki ciri tersendiri yang kuat, terutama dalam kehidupan sosial budaya yang dimiliki.
                        Desa Rumahtiga merupakan salah satu desa pesisir yang berada di sepanjang  kawasan kecamatan Teluk Ambon Baguala. Tepatnya desa ini memiliki kawasan pesisir yang berhadapan dengan Desa Galala di seberang laut. Tentunya, sebagai desa pesisir, Desa Rumahtiga memiliki berbagai macam karakteristik yang membuat kehidupan sosial budaya pesisirnya begitu unik.
                        Karakter suatu tempat tentunya sangat berkaitan erat dengan relief atau bentuk permukaan  tempat tersebut. Sebut saja desa Rumahtiga yang terletak di sepanjang pantai pada Teluk Ambon bagian dalam. Karena terletak di kawasan pesisir, maka sosial budaya yang berkembang di Desa Rumahtiga juga merupakan sutau kehidupan sosial yang tidak berorientasi jauh dari kehidupan pantai dan pesisir.  Kehidupan masyarakat di Desa Rumahtiga merupakan percampuran antara penduduk asli yang hanya sebagian kecil dan tinggal di sebagian besar kawasan pesisir. Selain itu juga penduduk pendatang yang lebih  berorientasi di daerah daratan. Tentunya, yang harus dilihat sebagai ciri sosial budaya kehidupan masyarakat di Desa Rumahtiga adalah merupakan kehidupan penduduk asli Desa Rumahtiga yang tinggal di kawasan pesisir.
                        Berdasarkan hasil wawancara dengan mantan Kepala Desa Rumahtiga, Bapak Ferdinan Tita, diperoleh suatu informasi penting bahwa, kehidupan sosial budaya masyarakat pesisir Desa Rumahtiga sangat kental di zaman dahulu. Menurut beliau, adalah suatu anugerah pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Hal ini dikarenakan oleh budaya yang mengakar serta kehidupan sosial yang begitu original atau asli. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik dari kehidupan masyarakat pesisir karena kehidupan mereka yang apa adanya.
                        Karena bermukim di sepanjang kawasan daerah pesisir, sebagian besar penduduk asli Desa Rumahtiga bermata pencaharian sebagai nelayan. Aktifitas nelayan yang dilakukan relatif sederhana. Di tahun 1970-an memang beberapa masyarakat ada yang mempunyai redi, tetapi di awal tahun 1990-an, sudah tidak mulai digunakan.  Masyarakat hanya memancing dengan perahu dan kail, atau bahkan dengan membuang jaring atau jala. Dulu juga di Desa Rumahtiga, masyarakat sering menangkap ikan dengan menggunakan jaring dara. Namun dengan berjalannya waktu, kondisi alam yang tidak sesuai tidak memungkinkan masyarakat nelayan tempat tersebut untuk menjaring ikan dengan menggunakan jaring dara. Pada masyarakat pesisir bukan hanya para suami yang melakukan pekerjaan. Para istri juga turut menyumbang peranan penting di dalam kehidupan ekonomi mereka. Jika suami-suaminya melakukan proses tangkap, biasanya para istri akan membantu mereka dalam menjual ikan dengan cara “bajalang koliling kampong” (berjalan sepanjang kampung) sambil membawa hasil tangkapan berupa ikan segar, dan biasanya di beli oleh masyarakat lainnya.
                        Selain sebagai nelayan, masyarakat pesisir Desa Rumahtiga juga mampu melihat adanya peluang kerja bagi mereka lewat alat transportasi air untuk penyeberangan dalam teluk yakni dengan menggunakan perahu. Sebenarnya filosofi berkembangnya perahu sebagai alat transportasi perairan di Desa Rumahtiga berawal dari nenek moyang mereka di zaman dulu. Dulu, saat nenek moyang Desa Rumahtiga akan pergi bersekolah atau ingin pergi ke Kota, mereka harus mendayung sendiri perahu yang mereka miliki. Aktifitas ini terus berjalan dari waktu ke waktu. Hingga suatu saat orang merasa bahwa sebenarnya terdapat peluang mereka dalam menyambung kehidupan ekonomis jika mereka mau saling bekerja sama. Ada yang mendayung hingga tempat tujuan, dan ada yang akan membayar sejumlah nilai kepada orang yang mendayung. Di zaman dahulu, dalam membayar harga perahu ada yang pakai barang atau dengan istilah barter. Tetapi dengan perkembangan zaman, maka nilai ekonomisnya dapat ditukar dengan uang. Selain itu, perkembangan alat transoprtasi laut yakni perahu juga tetap ada sampai sekarang ini.
                        Karena memiliki mata pencaharian yang mengakibatkan mereka harus bekerja denga keringat darah dan melawan kondisi alam, biasanya masyarakat pesisir diidentikan dengan istilah jujur. Selain itu memiliki fisik tubuh yang kekar serta berwarna gelap atau hitam. Hal ini juga nampak dalam kehidupan masyarakat pesisir Desa Rumahtiga. Jika meninjau ciri masyarakat pesisir yang menyatakan bahwa mereka biasanya memiliki suara yang besar, realita ini tidak begitu terjawab pada masyarakat pesisir desa Rumahtga. Berbeda dengan Desa Alang yang merupakan daerah pesisir dengan ombak yang sangat besar, sehingga terdapat filosofi bahwa hal ini mengakibatkan masyarakat setempat memiliki volume suara yang juga relatif besar untuk melawan suara ombak tersebut. Karena pesisir Desa Rumahtiga terletak di Teluk Ambon bagian dalam, jadi ombaknya tidak begitu besar, sehingga volume suara dari masyarakat tersebut juga relatif biasa-biasa saja.
                        Selain dilihat dari kehidupan ekonomi masyarakat pesisir, mereka juga memiliki budaya yang melimpah. Bagi Bapak Ferdinan Tita yang akrab disapa Bapa Nan, masa kecilnya di dalam lingkungan kehidupan masyarakat pesisir begitu kaya akan budaya. Dulu, setiap hari semua anak di Desa Rumahtiga selalu memanfaatkan pantai sebagai tempat mereka bermain. Jarang sekali dapat dilihat ada anak yang bermain di hutan. Hampir sebagian besar anak di Desa Rumahtiga menghabiskan waktu bermainnya di tepi pantai. Berbagai permainan tradisional menjadi pilihan mereka menghabiskan waktu. Bahkan bukan hanya anak-anak, orang tua juga turut  dalam berbagai jenis permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak mereka. Permainan khas daerah seperti asen, istilah “baku lempar bola pasir”, dan berbagai permainan tradisional lainnya yang begitu mengental di zaman dulu dikembangkan secara baik. Hal inilah yang membuat kehidupan masyarakt pesisir selalu diwarnai dengan keceriaan walaupun kehidupan sosial ekonomi mereka terbatas.
                        Bukan hanya orang tua yang melakukan proses memancing, sambil bermain di sekitar pantai, anak-anak biasanya menangkap ikan menggunakan pana-pana dan tombak serta huhate. Dulu, di sekitar kawasan pantai Rumahtiga, produktifitas ikannya sangat melimpah. Sehingga sambil bermain di pesisir, anak-anak akan mencari ikan untuk di bakar. Ikan yang banyak dijumpai seperti ikan puti lai. Selain itu, pantai Desa Rumahtiga juga memiliki pesisir pantai yang landai, datar, dan lebar. Sehingga biasanya saat malam minggu, para pemuda dan juga orang tua akan berkumpul dan duduk di pesisir pantai sambil bernyanyi dan bermain gitar serta menabuh tifa sambil berdendang bersama.
                        Istilah “baku bage” sangat kental dalam kehidupan masyakat pesisir. Jika ada yang mendapat hasil tangkapan yang melimpah, ia bahkan tidak segan-segan untuk membagi-bagikan hasil tangkapannya kepada para tetangga atau masyarakat sekitar. Inilah wujud solidaritas dan hidup kebersamaan yang sangat khas dalam kehidupan masyarakt pesisir. Cara hidup seperti ini sangat nampak dalam kehidupan mereka. Bahu membahu saling menolong di antara kehidupan masyarakat bukan lagi hal yang sulit untuk dijumpai.
                         Namun sangat di sayangkan, dengan berjalannya waktu setiap budaya yang ada semakin terkikis bahkan bisa dikatakan hampir punah. Kondisi  pesisir yang landai dan dimanfaatkan sebagai tempat duduk bersama juga tidak lagi nampak. Hal ini dikarenakan dibangunnya talit-talit besar sebagai pembatas ombak. Selain itu, kondisi alam yang kaya akan ikan tidak lagi terlihat sekarang ini. Dan yang sangat ironis, berbagai budaya permainan tradisional hilang ditelan masa begitu saja dan hanya meninggalkan bekas kenangan. Hal ini sangat memprihatinkan. Aktifitas nelayan di kawasan pesisir juga telah menurun dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Sekarang ini, masyarakat pesisir Desa Rumahtiga hanya melakukan proses memancing sebagai pekerjaan sambilan. Hanya satu ciri kehidupan sosial yang masih tetap hidup sampai saat ini yakni alat transportasi laut “parahu”.
                        Suatu hal yang  harus kita ketahui bahwa kehidupan sosial budaya masyarakat pesisir merupakan suatu kehidupan yang sederhana tetapi sangat kuat dan memiliki makna yang tinggi, sehingga harus tetap dijaga dan dikelolah secara baik. Sebab budaya yang baik adalah budaya yang mengakar dan tetap nampak hidup di dalam kehidupan. Bukan budaya yang hanya mengakar sebagai kenangan saja.

Sumber: Bapak Ferdinand Tita (Mantan Raja Desa Rumahtiga)


                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar