Rabu, 24 Agustus 2011

“Dampak Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Kegiatan Wisata, dan Kegiatan Irigasi yang Mempengaruhi Kualitas dari Danau”


 LIMNOLOGI

“Dampak Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Kegiatan Wisata, dan Kegiatan Irigasi yang Mempengaruhi Kualitas dari Danau”

Disusun oleh :

CYECILIA  PICAL
2009 – 63 – 028
MSP

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2010


Dampak dari Berbagai Aktifitas yang Mempengaruhi Kualitas Danau

1.   Dampak dari kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terhadap kualitas danau

                        Dengan melihat beberapa pertimbangan, negara kemudian mulai jeli dalam memanfaatkan setiap sumber daya yang ada. Lewat PT. PLN, sekarang sudah mulai berkembang pembangkit Listrik Tenaga Air yang memanfaatkan sumber-sumber air alami sebagai sumber energi pembangkit listrik. Beberapa diantaranya di Indonesia dapat di lihat pada PLTA Maninjau, PLTA Singkarak, PLTA Koto Panjang dan lain-lain. PLTA Maninjau misalnya memanfaatkan Danau Maninjau sebagai sumber energi pembangkit listriknya.
                        Tentunya, perkembangan ini telah disesuaikan dengan daya dukung lingkungan dimana setiap PLTA ini akan dibangun. Yang terpenting dari terobosan ini adalah bagaimana keberadaan PLTA yang dapat tetap menjaga kualitas ekosistem perairan yang menjadi sumber energinya.
                        Namun, tentunya semua ini harus dibarengi dengan kerja sama serta fungsi control yang baik oleh berbagai pihak yang terkait. Karena, beberapa fakta membuktikan bahwa ternyata keberadaan PLTA justru memberikan sumbangsi pencemaran terhadap perairan. Danau Maninjau merupakan salah satu contoh konkret pencemaran akibat adanya PLTA.


                        Dampak negatif pembangunan PLTA di Danau Maninjau yakni dengan adanya  penyumbatan aliran air yang membawa endapan/limbah. Ditutupnya outlet alami (Batang Antokan) untuk keperluan PLTA menyebabkan berubahnya pola pengeluaran air.  Air keluar tidak dialirkan melalui saluran pengeluaran alamiahnya (Sungai Batang Antokan) tetapi melalui intake  PLTA dengan laju 13,39 m3/detik. Hal ini menunjukkan lemahnya kajian secara komprehensif terhadap pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, penting suatu kajian untuk mengatur alokasi pemanfaatan ruang sekarang dan akan datang yang lebih mempertimbangkan aspek lingkungan. Tentunya, endapan limbah ini akan berpengaruh pada tinggi muka air di danau. Limbah ini akan berpengaruh kepada produktifitas perairan danau, dan yang menjadi dampak fatal adalah kualitas danau yang akan semakin menurun. Untuk itu, kajian komprehensif terhadap pemanfaatan ruang menjadi sangat penting.
                        Disadari atau tidak pembangunan PLTA, hotel, rumah, penginapan dan bangunan lainnya yang melewati garis pantai sebagai daerah resapan air telah merubah bentuk ekosistem danau itu sendiri, jika hal ini dibiarkan saja tanpa ada upaya pencegahan maka kerusakan danau akan semakin parah, contoh sederhana ombak air Danau Maninjau pada sore hari menghempas ke pinggir pantai sekarang dihalangi oleh tembok bangunan (dam) sehingga siklus air tidak berjalan secara alami, jelas saja goncangan ombak akan besar didasar danau dan hal ini akan mengguncang dasar danau yang berlumpur akibatnya air danau akan cepat keruhnya.


2.   Dampak dari kegiatan wisata terhadap kualitas danau

                        Tentunya suatu lokasi yang berhubungan dengan pariwisata sangat rentan dengan masalah-masalah pencemaran lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan jumlah pengunjung atau wisatawan yang ada dengan berbagai karakter dan kebiasaan masing-masing. Banyak yang berfikir bahwa tempat wisata merupakan sarana untuk bersenang-senag sehingga pengunjung hanya ingin di manjakan dengan segala fasilitas yang ada tanpa melihat berbagai akibat di belakangnya. Biasanya pada lokasi pariwisata tersedia kamar mandi umum, kamar mandi baik di restoran maupun hotel di sekitar danau. Tentunya dari kamar-kamar mandi ini akan menghasilkan limbah yang meresap ke dalam tanah. Bahkan tak jarang ada pula limbah yang langsung dialirkan ke danau melalui saluran air atau selokan. Efeknya tentu pada pencemaran kualitas air serta meningkatnya  populasi bakteri  yang dapat membahayakan kesehatan setiap orang yang memanfaatkannya.


                        Pencemaran merupakan musuh utama industri pariwisata, akan tetapi, ironisnya, sebagian besar pencemaran justru diakibatkan oleh aktifitas pariwisata, khususnya lokasi pariwisata air seperti sungai, danau, dan laut.  Makin sukses industri pariwisata suatu daerah, maka akan semakin meningkat pula tingkat pencemarannya. Hal ini sangat nyata dan dapat disaksikan secara langsung pada keadaan Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumatera Barat sekarang ini. Makin banyak wisatawan, makin banyak pula sampah yang diproduksi antara lain berbagai bungkus makanan baik kertas maupun plastik, sisa makanan, dan limbah lainnya secara langsung. Tentunya dampak langsung dari semua ini adalah kualitas air yang tidak lagi bersih. Selain itu, permukaan air yang ditutupi oleh sampah dapat menghalang penetrasi cahaya yang masuk ke perairan untuk proses fotosintesis. Jika kemudaian sampah ini tidak dikelola secara baik, maka akan ikut mengendap ke dasar perairan dan kemudian akan menumpuk membentuk sedimentasi. Sudah sangat jelas akibatnya akan mempengaruhi kualitas dari suatu danau baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kurun waktu yang singkat maupun dampak jangka panjangnya.

3.   Dampak kegiatan irigasi terhadap kualitas danau

Irigasi adalah suatu sistem pemberian air dari sumber air seperti sungai, waduk, danau, atau air tanah yang disalurkan melalui saluran-salauran irigasi ke tempat yang diperlukan, dan kemudian air yang tidak terpakai lagi disalurkan melalui pembuangan ke saluran alami seperti sungai. Irigasi sendiri sangat bermanfaat bagi kegiatan pertanian, peternakan, dan budidaya lainnya. Namun di samping itu terdapat pula efek negatig dari keberadaan irigasi di suatu perairan lebih khusunya pada Danau. Suatu system irigasi seharusnya disesuaikan dengan daya dukung atau Carrying Capacity dari sumber dayanya. Tentunya, proses irigasi akan berpengaruh kepada kuantitas atau jumlah air suatu perairan. Jika irigasi dilakukan secara berlebihan dan tidak terkontrol secara baik, maka akan memberikan dapak terhadap lingkungan perairan sumberdaya airnya. Jumlah air yang berkurang jika dibandingkan dengan pembuangan limbah yang meningkat tentunya sangat mempengaruhi daya dukung dari suatu perairan terutama danau. Hal ini berpengaruh kepada menurunnya kualitas air yang mengarah pada pencemaran danau tersebut.
Belum lagi diketahui bahwa sisa irigasi yang tidak terpakai akan dikembalikan melalui saluran pembuangan. Jika saluran pembuangan ini mempunyai hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan perairan danau, maka dampaknya juga akan dirasakan. Proses ini mampu membawa sejumlah material dari daratan sehingga akan berdampak pada kualitas perairan danau. Yang sangat dikhawatirkan, sisa-sisa pupuk pertanian akan terbawa dan ikut masuk dalam lingkungan perairan danau. Jika hal ini terjadi maka kualitas perairan akan sangat memburuk.

Sumber :

(19 Oktober 2010, 21:38)

(18 Oktober 2010, 22:54)

(19 Oktober 2010, 20:15)

(19 Oktober 2010, 22:07)

(19 Oktober 2010, 21:10)

(19 Oktober 2010, 19:46)

(19 Oktober 2010, 20:00)

(19 oktober 2010, 19:30)

Kamis, 18 Agustus 2011

Laporan Praktikum Benthos


  Laporan Praktikum Benthos

KELOMPOK   4 (PRODI MSP)

Cyecilia Pical (2009 – 63 – 028)
Greaty Ilona Hatulesila (2009 – 63 - 021)
Nur Indah Sari Ch. M (2009 – 63 – 020)
S. Fitri Wasahua (2009 – 63 – 047)
Yudith Dokainubun (2009 -63 – 072)
Vini N. Lanith (2009 – 63 – 001)
Hijra Mustafa (2009 – 63 - 031)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2010


I.     PENDAHULUAN


        1.1   Latar Belakang

                                    Bentos merupakan biota yang menempel, merayap, dan meliang di dasar perairan. Kedalaman air, suhu,  salinitas, dan jenis substrat  semuanya merupakan faktor yang  mempengaruhi ada tidaknya bentos di suatu tempat. Banyak organisme bentos yang dapat kita jumpai di sepanjang daerah pantai, dan juga pada daerah ekosistem mangrove. Ada yang hidup di dalam liang tanah, merayap pada substrat berlumpur, ada yang menepel pada kayu yang membusuk, menempel pada batu,  menempel pada akar mangrove, dan juga yang hidupnya menempel pada lamun. Selain itu, terdapat pula  bentos yang hidupnya menempel pada dasar perairan.
                                                Organisme yang termasuk bentos tidak hidup sendiri. Mereka hidup dalam satu ekosistem serta saling betergantungan satu  dengan yang lainnya. Hal inilah yang membuat bentos juga memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu ekosistem agar tetap dijaga dan dikembangkan keberadaannya, guna menjaga stabilitas ekosistem di suatu tempat, khususnya ekosistem pantai.

        1.2   Tujuan dan Manfaat
                                    Adapun tujuan dan manfaat dari praktikum yang dilakukan adalah untuk mengetahui jenis-jenis organisme yang termasuk bentos di satu lokasi tertentu terlebih khusus dapat mengenal deskripsi dan tipe habitat dari tiap spesies.

II.    TINJUAN PUSTAKA
       
        A. Pengertian Bentos
                               Istilah  bentos berasal dari bahasa Yunani yang artinya "kedalaman laut". Bentos juga digunakan dalam biologi air tawar untuk merujuk pada organisme di dasar air tawar,  badan air , seperti danau dan sungai.      
                                    Bentos merupakan sebuah organisme yang tinggal di dalam, atau di dasar laut, dikenal sebagai zona bentik. Mereka tinggal di dekat laut atau endapan lingkungan, dari pasang surut di sepanjang tepi kolam, dan kemudian ke bawah abisal pada kedalaman. Kedalaman air, suhu dan salinitas, dan jenis substrat lokal semua mempengaruhi ada tidaknya bentos di suatu tempat .

        B. Cara Bentos Memperoleh Makanan
                    Sumber makanan utama untuk bentos adalah alga dan organik limpasan dari tanah. Di perairan pantai dan tempat-tempat lain di mana cahaya mencapai bagian bawah, hewan bentik seperti diatom yang mampu berfotosintesis dapat berkembang biak.
                        Adapun cara dari setiap bentos untuk memperoleh makanannya adalah sebagai berikut :
1.  Filter feeder atau sering disebut suspension feeder, adalah hewan yang makan dengan menyaring padatan tersuspensi dan partikel makanan dari air, biasanya dengan melewatkan air melalui struktur penyaringan khusus. Contohya seperti spons dan bivalvia yang memiliki tubuh yang keras. Proses ini dapat terjadi pada daerah yang berpasir.
2.  Deposit feeders, adalah binatang atau hewan yang mengkonsumsi sisa-sisa makanan pada substratum di bagian bawah air. Seperti polychaetes yang memiliki permukaan tubuh yang lunak. Ikan, bintang laut, siput, cumi, dan krustasea yang merupakan predator.
                        organisme bentik, seperti bintang laut , tiram , kima , teripang , bintang rapuh dan anemon laut , memainkan peran penting sebagai sumber makanan bagi ikan dan manusia .

        C. Jenis Bentos
            Berdasarkan Ukurannya

1.   Makrobentos

Makrobentos adalah lebih besar, lebih terlihat, bentos yang lebih besar dari 0,5 mm. Beberapa contoh adalah cacing polychaete , bivalvia , echinodermata , anemon laut , karang , spons, turbellarians dan lebih besar krustasea seperti kepiting, lobster dan cumaceans .
 2.   Meiobentos adalah bentos kecil yang kurang dari 0,5 mm, tetapi lebih besar dari 32 μm dalam ukuran. Beberapa contoh adalah nematoda, foraminiferans, beruang air, gastrotriches dan lebih kecil krustasea seperti copepoda dan ostracodes .

3.  Microbentos

Microbentos adalah bentos mikroskopis yang kurang dari 32 μm dalam ukuran. Beberapa contoh adalah bakteri , diatom , siliata , amuba , Flagelata

Berdasarkan jenis

1.  Zoobentos, merupakan hewan milik bentos tersebut.

2.  Phytobentos merupakan tanaman milik bentos tersebut.

Menurut lokasi

1.  Epibentos, merupakan organisme yang hidup di atas sedimen

2.   Hyperbentos, merupakan organisme yang tinggal tepat di atas sedimen.


C. Pentingnya Bentos
Bentos sebenarnya memiliki peranan yang penting dalam suatu ekosistem. Berikut ini akan diuraikan pentingnya keberadaan bentos dalam suatu ekosistem.
1.   Bentos berfungsi dalam proses rantai makanan
Bentos merupakan bagian penting dari rantai makanan, terutama untuk ikan. Banyak invertebrata memakan alga dan bakteri, yang berada di ujung bawah rantai makanan. Beberapa rusak dan makan daun dan bahan organik lainnya yang masuk air. Karena kelimpahan mereka dan posisi sebagai "perantara" dalam rantai makanan air, bentos memainkan peran penting dalam aliran alami energi dan nutrisi. Invertebrata bentos yang sudah mati akan membusuk dan kemudian meninggalkan nutrisi yang digunakan kembali oleh tanaman air dan hewan lainnya dalam rantai makanan.
2.   Bentos dapat digunakan untuk melihat kualitas air pada suatu perairan
Tidak seperti ikan, bentos tidak bisa bergerak banyak sehingga mereka kurang mampu menghindar dari efek sedimen dan polutan lain yang mengurangi kualitas air. Oleh karena itu, bentos dapat memberikan informasi mengenai kualitas air sungai dan kualitas air danau. siklus hidup lama mereka memungkinkan penelitian yang dilakukan oleh ahli ekologi akuatik untuk menentukan setiap penurunan kualitas lingkungan. Bentos merupakan grup yang sangat beragam hewan air, dan sejumlah besar spesies memiliki berbagai tanggapan terhadap stres seperti polutan organik, sedimen, dan toxicants.  bentik makroinvertebrata Banyak berumur panjang, yang memungkinkan deteksi peristiwa masa lalu seperti pencemaran tumpahan pestisida dan ilegal dumping.

II.    METODE PRAKTIKUM

          3.1   Metode di Lapangan
               Hari/ Tanggal     : Rabu, 26 Mei 2010
               Waktu                 : Pukul 15.30 – 17.30 WIT
               Lokasi                 : Depan BKPI Poka
               Alat dan Bahan  : - Alat         : - Plastik Bening
                                                               - Karet gelang
                                                               - Spidol
                                            - Bahan      : - sample (molusca, echinodermata, dan crustacea)

               Saat melakukan praktikum di lapangangan, digunakan Metode  Koleksi Bebas. Dimana praktikan mengoleksi  setiap individu yang masuk dalam kategori bentos dan kemudian akan diidentifikasi di laboratorium.

3.2   Metode di Laboratorium
               Hari / Tanggal    : Rabu, 9 Juni 2010
               Waktu  `              : Pukul 10.00 – 12.00 WIT
               Lokasi                 : Laboratorium MSP
               Alat dan Bahan  : - Alat         : - Wadah sample
                                                               - Cawan Porselen
                                                               - Buku identifikasi
                                            - Bahan      : - sample ( molusca, echinodermata, dan crustacea)
                                                               - cairan Formalin
              
               Kegiatan yang dilakukan di Laboratorium merupakan praktikum lanjutan  dari kegiatan praktikum di lapangan. Praktikum di Laboratorium dilakukan dengan metode Kepustakaan. Dengan metode ini, praktikan melakukan identifikasi terhadap setiap organisme yang ditemukan di lapangan.

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
       
        4.1   Taksonomi masing – masing Jenis
               a.      Ocypode cordimanus
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom        :
Animalia
Fillum             :
Arthropoda
Sub Fillum      :
Crustacea
Kelas              :
Malacostraca
Ordo              :
Decapode
Famili            :
Ocypodidae
Genus            :
Ocypode
Spesies           :
O. cordimanus
Nama Binomial
Ocypode cordimanus
Desmarest, 1825

               b.  Archaster typus
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom          :
Animalia
Fillum              :
Echinodermata
Kelas                :
Asteroidea
Ordo                :
Valuatida
Famili              :
Archasteridae
Genus              :
Archaster
Spesies            :
A. typicus
Nama Binomial
Archaster typicus
               c.  Terebralia sulcata
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom          :
Animalia
Fillum              :
Molusca
Klas                 :
Gastropoda
Ordo                :
Batillaridae
Famili              :
Potamididae
Genus              :
Terebralia
Spesies            :
T. sulcata
Nama Binomial
Terebralia sulcata

               d.  Batillaria minima
Klasifikasi Ilmiah
Kingsom          :
Animalia
Fillum              :
Mollusca
Kelas               :
Gastropoda
Ordo                :
Batillaridae
Famili              :
Potamididae
Genus              :
Batillaria
Spesies            :
B. minima
Nama Binomial
Batillaria minima

                4.2.   Deskripsi Masing-Masing Jenis Termasuk Habitatnya
               a.  Ocypode cordimanus
                                    Ocypode cordimanus memiliki karapaks yang lebar maksimumnya kira-kira 4 cm. Ocypode cordimanus jantan memiliki capit yang kuat dan semakin membesar dari hari ke hari. capitnya bervariasi. Ada yang berwarna kebiruan, namun sebagian besar berwarna merah kecokelatan. Pada bagian kaki, memiliki kuku yang berwarna putih . Sedangkan Ocipode cordimanus betinanya  memiliki capit yang kecil dan sama bentuk. Ocypode cordimanus memiliki karapaks yang bentuknya mirip persegi. Serta berwarna ungu kecokelatan. Memiliki gigi yang agak tebal. Memiliki tentakel yang pada bagian ujungnya terdapat mata. Secara umum, organisme ini memiliiki bentuk kaki yang kelihatan tidak berbahaya tetapi mudah dalam menggali lubang jika tertancap pada tanah.
                                    Ocypode cordimanus memiliki karakteristik hidup  di tepi pantai tepatnya di bawah tanah dengan cara menggali lubang. Biasanya lubang digali sedalam  1,5 meter. Organisme ini hidup dalam jumlah yang banyak, terutama di sepanjang komunitas  mangrove. Organisme termasuk crustacea ini hidup pada substrat supralitoral dan jarang terekspos di laut karena hidup pada liang tanah. Di tempat-tempat tertentu, masyarakat biasanya memanfaatkan hewan ini untuk dikonsumsi.
                   
               b.  Archaster typicus
                   
                 Spesies ini merupakan bintang laut bertangan lima yang berasal dari cakram pusat. Tiap lengan atau tangannya memiliki panjang hingga 5 cm serta memiliki tepi yang bergerigi. Cara makannya dengan cara menyaring substrat. Bagian dorsal berwarna abu-abu sedang dengan bintik-bintik gelap. Bagian ventral berwarna putih kecokelatan serta memiliki  Tube kaki yang transparan.
                                    Archaster typicus banyak dijumpai pada daerah padang lamun yang memiliki substrat halus dan relative terbuka. Pada waktu siang hari Archaster  typicus biasanya  membenamkan diri di dalam pasir dan pada waktu malam hari baru akan terlihat di permukaan sedimen. Pada dasarnya spesies ini memiliki tubuh yang biasanya ditutupi  oleh pasir halus.

               c.  Terebralia sulcata
                                     Terebralia sulcata memiliki pembuka cangkang yang khas yang dikenal sebagai sebuah peristome. Memiliki diameter tubuh yang panjangnya kira-kira 0,3  cm, serta  memiliki cangkang yang tebal dan  serta berbentuk seperti kerucut yang panjangnya kira-kira 2,5 – 6,5 cm. Cangkang yang tebal melingkar seperti spiral dan membentuk kerucut tersebut, memiliki permukaan yang unik. Hal ini dikarenakan terdapat tonjolan-tonjolan kecil yang timbul dan tersusun secara rapi pada setiap permukaan cangkang. Organisme ini memiliki cangkang berwarna cokelat tua hingga hijau tua. Jika terkena cahaya akan terlihat mengkilat seperti warna orange.
                                                Terebralia sulcata sering dijumpai pada daerah di sepanjang ekosistem mangrove, daerah litoral dan sublitoral, terutama di daerah lumpur di tepi pantai. Terebralia sulcata banyak ditemukan menempel di akar mangrove.
               d.  Batillaria minima
                                                Batillaria minima memiliki diameter berukuran 5 mm. Karena termasuk dalam filum moluska, hewan ini memiliki cangkang yang tegak dan kuat. Pada bagian bawah cangkang akan membulat. Cangkangnya berwarna hitam, cokelat tua, hingga hijau kecokelatan. Sebagian besar cangkangnya memiliki warna bervariasi atau gabungan dari ketiga warna tersebut. Sering disebut pula, organisme ini memiliki 2 lapisan warna pada cangkangnya. Permukaannya berwarna kehijauan. Sedangkan lapisan keduanya berwarna gelap seperti hitam dan cokelat. Sehingga tampak warnanya seperti bervariasi. Pada cangkangnya terlihat seperti terdapat ornament spiral yang melingkar. Mulut cangkangnya terdapat pada bagian bawah yang melingkar seperti pita. Dari mulut cangkang ini akan keluar kepala dari Batilaria minima yang akan mengeluarkan alat gerak untuk berjalan.
                                                Batillaria minima banyak dijumpai pada daeah litoral. Hewan ini banyak ditemukan di daerah ekosistem mangrove dan hidup  di tepi pantai berlumpur  yang sedikit berair.

        4.3   Pentingnya Bentos di Sekitar Perairan Depan BKPI-Poka
               Daerah Praktikum di sekitar perairan depan BKPI-Poka merupakan daerah komunitas mangrove yang hidup bersama dengan biota lainnya. Di dalam ekosistem tersebut terdapat pula hewan bentos seperti moluska, crustasea, echinodermata, polycaeta, dan organisme lainnya. Semuanya hidup membentuk satu kesatuan yang saling membutuhkan satu dengan lainnya. Sehingga, bentos memiliki peranan penting, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1.  Bentos berfungsi dalam proses rantai makanan
Bentos merupakan bagian penting dari rantai makanan, terutama untuk ikan. Banyak invertebrata memakan alga dan bakteri, yang berada di ujung bawah rantai makanan. Beberapa rusak dan makan daun dan bahan organik lainnya yang masuk air. Karena kelimpahan mereka dan posisi sebagai "perantara" dalam rantai makanan air, bentos memainkan peran penting dalam aliran alami energi dan nutrisi. Invertebrata bentos yang sudah mati akan membusuk dan kemudian meninggalkan nutrisi yang digunakan kembali oleh tanaman air dan hewan lainnya dalam rantai makanan.
2.  Bentos dapat digunakan untuk melihat kualitas air pada suatu perairan
Tidak seperti ikan, bentos tidak bisa bergerak banyak sehingga mereka kurang mampu menghindar dari efek sedimen dan polutan lain yang mengurangi kualitas air. Oleh karena itu, bentos dapat memberikan informasi mengenai kualitas air sungai dan kualitas air danau. siklus hidup lama mereka memungkinkan penelitian yang dilakukan oleh ahli ekologi akuatik untuk menentukan setiap penurunan kualitas lingkungan. Bentos merupakan grup yang sangat beragam hewan air, dan sejumlah besar spesies memiliki berbagai tanggapan terhadap stres seperti polutan organik, sedimen, dan toxicants.  bentik makroinvertebrata Banyak berumur panjang, yang memungkinkan deteksi peristiwa masa lalu seperti pencemaran tumpahan pestisida dan ilegal dumping.
V.  KESIMPULAN DAN SARAN
      5.1   Kesimpulan
                       Berdasarkan praktikum yang dilakukan di sepanjang perairan depan BKPI-Poka, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa jenis hewan bentos yang hidup pada perairan tersebut, antara lain :
Ocypode cordimanus, hidup merayap pada substrat lumpur berpasir. Organisme ini lebih tepatnya hidup di dalam liang tanah.
Archaster typicus, hidup menempel pada ekosistem lamun pada kedalaman 1,5 meter dan ada pula yang menempel pada pasir di dasar laut.
Terebralia sulcata, hidup menempel di akar mangrove.
Batillaria minima, hidupnya menempel pada substrat lumpur berpasir yang mengandung sedikit air.
-  Terdapat pula beberapa organisme yang termasuk dalam filum porifera seperti sponge dan filum Annelida seperti polychaeta tetapi tidak teridentifikasi.

5.2   Saran
                              Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, praktikan ingin menyarankan agar :
        1.  Kita harus tetap menjaga kelestarian bentos dalam suatu ekosistem mengingat betapa pentingnya keberadaan bentos.
        2.  Selain itu, dalam proses identifikasi, beberapa organisme tidak dapat teridentifikasi secara baik akibat kurangnya ketersediaan referensi penunjang. Untuk itu diharapkan adanya peningkatan ketersediaan referensi dalam identifikasi, guna menunjang proses belajar kedepan.

DAFTAR PUSTAKA
Kent E. Carpenter, Volker H. Niem. 1998. The Living Merine Resources Of The Western Central Pasifik Volume 2 Cephalopods, Crustaceans, Holothurians, and Sharks. Rome : FAO.
R. H. DE BRUYNE. 2003. The Complete Encyclopedia of Shells. Lisse : Rebo Publishers
Cecilia Fitzsimons. 2006. An Instant Guide To SeaShore Life. Jakarta : Gramedia
Susetiono. 2007. Lamun dan Fauna. Jakarta : LIPI PRESS


LAMPIRAN :

Ocypode cordimanus

tampak ventral
tampak dorsal
Archaster typicus
                                                                             


Terebralia sulcata